Potret Pengintegrasian Etnomatematika Dalam Tradisi dan Budaya Lokal Masyarakat Kudus


      Haii guys,,,!!! Dalam artikel kali ini kami akan membahas mengenai etnomatematika, apa itu etnomatematika?? Dan tahukah kalian bahwa matematika berhungan erat dengan kebudayaan?? Menurut Bishop (1994) yang menyatakan bahwa matematika merupakan suatu bentuk budaya. Matematika sebagai bentuk budaya, sesungguhnya telah terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat karena matematika dan budaya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan karena  matematika dan budaya adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari, karena budaya merupakan kesatuan yang utuh dan menyeluruh, berlaku dalam suatu masyarakat sedangkan matematika merupakan pengetahuan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Namun terkadang matematika dan budaya dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dan tidak berkaitan. 

      Selain itu Pinxten (1994) juga menyatakan bahwa pada hakekatnya, matematika merupakan teknologi simbolis yang tumbuh pada ketrampilan atau aktivitas lingkungan yang bersifat budaya. Dengan demikian matematika seseorang dipengaruhi oleh latar budayanya, karena mereka lakukan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Budaya akan mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai peran yang besar pada perkembangan pemahaman individual, termasuk pembelajaran matematika.

      Maka dari itu budaya dan tradisi masyarakat kudus berintegrasi atau besesuaian dengan konsep dalam matematika sehingga membentuk etnomatematika yaitu terdiri atas dua kata, etno (etnis/budaya) dan matematika. Itu berarti bahwa etnomatematika merupakan matematika dalam budaya. Istilah etnomatematika diperkenalkan oleh D’Ambrosio seorang matematikawan Brazil pada tahun 1977. Secara bahasa, awalan “ethno” diartikan sebagai sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada konteks sosial budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku, mitos dan simbol. Kata dasar “mathema” cenderung berarti menjelaskan, mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur, mengklarifikasi, menyimpulkan, dan pemodelan. Akhiran “tics” berasal dari kata techne dan bermakna sama seperti teknik (D’Ambrosio, 1994: 449).

    Masyarakat kudus memiliki banyak tradisi dan budaya lokal yang unik sehingga menarik untuk dibahas yaitu dandangan, menara kudus dan buka luwur. Kami akan membahasnya satu persatu…,

Tradisi dandangan dan konsep himpunan serta aritmatika social.

    Dandangan merupakan salah satu tradisi masyarakat kudus untuk menyambut bulan Ramadhan biasanya kegiatan tersebut berlangsung dari pagi hingga malam hari tersebut diramaikan dengan persembahan tarian kolosal dan beberapa hiburan lain. Penampilan tarian kolosal oleh puluhan penari itu menggambarkan sejarah industri pengolahan tembakau di Kudus. Sampai pada sejarah Sunan Kudus. Sebelum resmi dibuka dengan ditandai pemukulan beduk, masyarakat yang hadir diminta sejenak untuk mengheningkan cipta mendoakan Indonesia. ( bersumber : www.regional.kompas.com )  

      Berharap semua dalam lindungan Sang Khalik dari segala macam insiden buruk. Aksi teror yang melanda wilayah Jawa Timur dan juga wilayah lain di belahan Nusantara menjadi keprihatinan semua pihak. Tradisi Dandangan merupakan tradisi peninggalan Sunan Kudus sejak 450 tahun lalu, yang dilakukan untuk menyambut datangnya awal Ramadhan.  Dimana bermula dari masyarakat yang menanti pengumuman awal dimulainya waktu puasa dari sunan kudus yang ditandai dengan suara tabuhan beduk yang menggema "dang dang dang” sehingga masyarakat berkumpul menunggu datangnya bulan suci Ramadhan di Masjid dan Menara Kudus.
karena bunyi beduk tersebut maka disebut dengan dandangan
1.    Dandangan dan himpunan
      Semua masyarakat kudus ikut serta merayakan tradisi dandangan sebagai bentuk nguri-nguri tradisi dan budaya, biasanya mereka berkumpul di alun-alun kota Kudus. Mereka terdiri dari berbagai macam himpunan masyarakat mulai dari yang terkecil seperti RT hingga terbesar yakni Kabupaten dalam matematika dikenal konsep himpunan. Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang diberi batasan dengan jelas. Sehingga kita dapat menyebut Rukun Tetangga (RT) adalah himpunan dari semua warga yang tinggal di RT tersebut. Di setiap RT tadi ada satu tajug sebagai pusat ibadah dan pusat pendidikan dan pengembangan karakter anak-anak setempat. Selanjutnya, satu Rukun Warga (RW) adalah himpunan dari RT-RT yang masyarakatnya terbentuk dengan nilai-nilai ibadah dan pendidikannya. Dari himpunan RW menjadi himpunan desa, dari desa menjadi himpunan kecamatan, dari kecamatan menjadi himpunan kabupaten. 
Gambar 4. Ilustrasi perjalanan himpunan warga dari RT sampai kabupaten
2.    Dandangan dan Aritmatika Sosial
      Saat pelaksanaan tradisi dandangan Jalan Sunan Kudus dijejali oleh pedagang kaki lima (PKL) saat menjelang datangnya bulan Ramadan. Beraneka ragam dagangan disajikan di tempat itu. Mulai dari miniature, perabot dapur yang terbuat dari tanah liat, sampai berbagai macam pernah-pernak aksesoris untuk menghias diri dan lain sebagainya. Berkumpulnya masyarakat Kudus dalam menanti suara beduk pertanda masuk bulan Ramadan rupanya menjadi ceruk bagi para pedagang untuk jualan karena mereka dapat menjajakan barangya pada momen tersebut. Proses jual beli tersebut dalam matematika disebut dengan aritmatika sosial yang meliputi harga pembelian, harga penjualan, untung dan rugi
A.    Harga pembelian, harga penjualan, untung, dan rugi
       Dalam perdagangan terdapat penjual dan pembeli. Jika kita ingin memperoleh barang yang kita inginkan maka kita harus melakukan pertukaran untuk mendapatkannya. Misalnya penjual menyerahkan barang kepada pembeli sebagai gantinya pembeli menyerahkan uang sebagai penganti barang kepada penjual. Seorang pedagang membeli barang dari pabrik untuk dijual lagi dipasar. Harga barang dari pabrik disebut modal atau harga pembelian sedangkan harga dari hasil penjualan barang disebut harga penjualan. Dalam perdagangan sering terjadi dua kemungkinan yaitu pedagan mendapat untung dan rugi.
1.    Untung
      Untuk memahami pengertian untung perhatikan contoh berikut: Nanda membeli satu paket aksesoris dengan harga Rp 100.000, kemudian ia menjualnya pada acara dandangan akhirnya ada pembeli yang membeli dagangannya tersebut dengan harga 110000. Ternyata harga penjualan lebih besar dibanding harga pembelian, berarti nanda mendapat untung. Selisih harga penjualan dengan harga pembelian Rp110000–Rp100000=Rp10000 Jadi Nanda mendapatkan untung sebesar Rp 10000,- Berdasarkan contoh tersebut, maka dapat disimpukan Penjual dikatakan untung jika jika harga penjualan lebih besar dibanding dengan harga pembelian. Untung = harga jual – harga beli.
2.    Rugi
      Rugi membeli peratbotan dari tana liat untuk dijual di rumahnya Rp 15.000, perabotan  tersebut dalam perjalanan ruri melihat ada kecacatan sehingga ketika dijual hanya laku 10000. Ternyata harga penjualan labih rendah dari pembelian. Selisih harga beli dengan dengan penjualan
Rp10000-Rp15000=Rp-5000
Ternyata harga jual lebih rendah dari pada harga harga pembelian, jadi Ruri mengalami rugi. Berdasarkan uraian diatas penjual dikatakan rugi jika harga penjualan lebih rendah dibanding harga pembelian. Rugi = harga beli – harga jual
3.   Harga pembelian dan harga penjualan
     Telah dikemukakan bahwa besar keuntungan atau kerugian dapat dihitung jika harga penjualan dan harga pembelian telah diketahui.
Besar keuntungan dirumuskan:
Untung =harga jual – harga beli
Itu semua merupakan contoh bentuk pengintegrasian etnomatematika pada tradisi dandangan.

HIMATIKA IAIN KUDUS

Dep.Infokom

Departemen yang mengurusi segala hal yang berhubungan dengan informasi.

0 komentar:

Posting Komentar

Peraturan Berkomentar :
1. Komentar Harus Sesuai dengan Artikel
2. Berkomentarlah Dengan Bahasa yang Baik dan Sopan
3. Dilarang Spam
4. Dilarang OOT (Out of Topic)
5. Dilarang Memasang Link Aktif
6. Dilarang Menghina, Sara, dan P*rn
7. Dilarang Promosi (Iklan)

Jika melanggar peraturan diatas, maka komentar akan kami hapus.